KUPANG – Di tengah semakin menguatnya tuntutan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) terhadap kualitas layanan dan tata kelola Universitas Nusa Cendana (Undana), Rektor, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng, meminta para pejabat untuk menanamkan kompas moral dan memiliki kepekaan nurani dalam merasakan penderitaan sesama.
Permintaan itu disampaikan Rektor saat melantik 28 pejabat administrator, pengawas, dan fungsional di lingkungan Undana, Selasa (4/8/2026) di Aula Rektorat.
Jumlah tersebut terdiri dari 1 Wakil Dekan, 3 Kepala Bagian (Kabag) Umum, 3 Kepala Subbagian (Kasubag) Umum, serta 21 jabatan fungsional (jafung) yang meliputi Pranata Laboratorium, Pranata Humas, Analis SDM, Analis Anggaran, Arsiparis, dan Pustakawan.
”If you feel pain, you are alive. If you feel other people’s pain, you are a human being. Jika Anda merasakan penderitaan maka Anda hidup. Jika Anda dapat merasakan penderitaan orang lain maka Anda adalah manusia,” ujar Rektor mengutip Filsuf Rusia, Leo Tolstoy.
Menurutnya, setiap individu di lingkungan Undana pasti pernah mengalami kelelahan, kegagalan, beban tanggung jawab, maupun melakukan kesalahan. Semua itu merupakan bagian dari proses kehidupan sekaligus bukti bahwa seseorang benar-benar hidup.
Meminjam pemikiran Filsuf Friedrich Nietzsche dan Viktor Frankl, Prof. Jefri mengatakan bahwa mereka yang memiliki alasan untuk hidup akan sanggup menghadapi hampir segala bentuk tantangan.
Ia menegaskan, jabatan yang kini diemban para pejabat akan selalu menghadirkan konsekuensi berupa pengorbanan, tanggung jawab, dan bahkan penderitaan. Mulai dari rapat yang panjang, keputusan yang tidak selalu populer, hingga malam-malam yang dihabiskan untuk memikirkan kepentingan banyak orang.
”Pesan saya, Bapak Ibu tidak perlu takut dengan beban jabatan yang diterima. Sebab bisa menandakan bahwa Bapak Ibu benar-benar menjalankan amanah, bukan sekadar menyandang gelar atau jabatan yang diterima,” pinta Prof. Jefri.
Lebih jauh, Rektor menambahkan bahwa tanggung jawab moral paling mendasar lahir ketika seseorang mampu memandang penderitaan orang lain sebagai kenyataan yang harus direspons, bukan sekadar angka atau data di atas kertas.
Memaknai pesan sastrawan kenamaan tanah air, Pramoedya Ananta Toer, ia mengingatkan bahwa manusia boleh hidup dalam kecepatan zaman, tetapi tidak boleh kehilangan keluasan hati dan kepedulian terhadap sesama.
Perbedaan Pejabat dan Pemimpin
Dalam kesempatan itu, Rektor juga menjelaskan perbedaan mendasar antara seorang pejabat dan seorang pemimpin.
“Di sinilah letak perbedaan antara pejabat dan pemimpin. Pejabat mengurus struktur, pemimpin mengurus manusia di dalam struktur itu. Kekuasaan tanpa empati hanya akan melahirkan sistem yang efisien, tetapi tidak manusiawi,” tandas Prof. Jefri.
Ia kemudian mengutip ajaran terkenal Ki Hajar Dewantara tentang kepemimpinan, dan pesan Filsuf Albert Einstein mengenai pentingnya kepedulian.
Secara khusus bagi pejabat administratif dan tenaga kependidikan yang sering kali luput dari sorotan namun menjadi tulang punggung universitas, Rektor menyampaikan pesan berharga dari Biarawati Katolik, Bunda Teresa.
“Seperti pesan yang disampaikan oleh Bunda Teresa: tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar, tetapi kita semua dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Setiap surat yang diproses, setiap layanan yang diberikan dengan tulus, adalah wajah pertama lembaga ini di mata mereka yang membutuhkan,” ujar Prof. Jefri.
Ajaran Agama sebagai Kompas Moral
Lebih lanjut, Rektor mengingatkan seluruh jajaran yang dilantik mengenai dua ajaran yang harus menjadi kompas moral dalam menjalankan amanah, baik saat menerima pujian maupun ketika menghadapi situasi yang sulit.
”Dalam ajaran dan tradisi Islam ada konsep itsar, mendahulukan kepentingan orang lain meskipun kita sendiri sedang bertugas. Dalam ajaran Kristiani, iman tanpa perbuatan maka pada hakikatnya mati. Ini dua hal yang harusnya menjadi kompas moral bagi kita ketika kita melayani Undana,” ungkap Prof. Jefri.
Tuntutan Undana sebagai Public Good
Selain menekankan nilai-nilai kepemimpinan, Rektor juga mengingatkan bahwa Undana kini memikul tanggung jawab dan tuntutan yang semakin besar sebagai perguruan tinggi milik masyarakat.
“Kita sekarang ini bukan private good lagi, kita ini public good. Sudah menjadi milik dari masyarakat. Jadi harus terima konsekuensinya bahwa apa pun yang kita lakukan itu akan diperhatikan oleh masyarakat, khususnya Nusa Tenggara Timur,” katanya.
Karena itu, ia meminta seluruh jajaran menerima kritik dan masukan, baik yang bersifat konstruktif maupun destruktif, sebagai bentuk perhatian dan harapan masyarakat terhadap kemajuan Undana.
“Lepas dari benar atau salah kita, inilah momentum kita untuk melakukan refleksi agar pelayanan kita di Undana itu makin lebih baik. Perbaiki yang belum baik, pertahankan yang sudah baik, bahkan tingkatkan yang sudah baik sesuai visi mewujudkan Undana menjadi World Class – Locally Relevant University,” pungkasnya.(Ref)
Undana
Unggul
Share This News